Tuesday, December 25, 2007


DIBAWAH SAUNGAN* KAMI MEMOHON

Oleh: AsmaMu

Musim panas telah berlalu, kini datang musim semi. Ia merupakan peralihan antara musim panas dan dingin. Musim yang indah bagi siapapun yang berada di Kairo. Udaranya sejuk dengan semilir angin yang bertiup. Bagi warga Mesir sendiri, ia merupakan musim yang paling sukai, mereka banyak keluar dari rumah menuju taman-taman yang berumput indah. Menghabiskan waktu hingga malam tiba. Ada istilah; dimana ada rumput disitu ada warga Mesir. Memang demikian kenyataannya karena mayoritas mereka tak memiliki halaman rumah pribadi.

Hadiqah Azhar merupakan salah satu taman asri nan indah. Rerumputan indah dengan penataan taman yang terencana dengan baik. Di bagian kanan terdapat rumah makan orang-orang elit dengan desain bangunan klasik, hal itu menambah kenyamanan bercengkrama bagi siapa saja yang ada di dalamnya. Di balik bangunan itu terdapat saungan diatas gundukan yang tinggi. Tempat yang nyaman untuk bercengkrama menghabiskan waktu sore hari nan indah.

###

Angga dan Anggi merupakan sepasang pasangan yang belum lama jadian, kisah jadinya merekapun singkat. Saat itu Angga lewat di salah satu jalan bawabah tiga. Anggi saat itu terdiam di tepi jalan dengan wajah bingung mencari alamat rumah temannya. Anngapun menyapa dengan wajah ramah kemudian menanyakan Anggi. Angga akhirnya mengantar Anngi ke alamat yang anggi tuju. Disela perjalanan, terjadi perkenalan dan percakapan ringan yang akhirnya membuat mereka saling tertarik sehingga bersatu dalam sebuah ikatan kasih.

###

Pagi itu Angga berencana mengajak Anggi menghabiskan waktu sore di hadoqah Azhar. Sengaja Angga mengajak Anggi kesana karena terdapat hal yang perlu dibicarakan, melihat ujian semakin dekat. Namun hal itu ia pendam hingga datang waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Angga mengeluarkan handphone yang berada di saku celananya dan menelpon Anggi;

“Assalamu’alaikum sayaang…Apa kabar?”

“Wa’alaikum sayaang, kabar baik ngga”

“Gini, kita ke hadiqah Azhar yuk?”

“Ngapain ngga?”

“Ada sedikit yang perlu kita bicarakan”

“Ehmm, ya udah boleh. Ketemu dimana ngga?

“Emm, di masjid al-Azhar aja soalnya aku ingin mencari buku dulu, jam 15.30 on time oke!”

“Oke dech!”

“Dah sayaang”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

###

Jam sepuluh pagi aku berangkat ke kawasan “el-Dirasah” tempat dimana kampus Al-Azhar Husain berada. Depan dan belakangnya banyak toko-toko buku. Aku niatkan ingin menyari buku” al-Tahbir fi Ulumi al-Tafsier karangan Imam al-Suyuthi”. Buku satu ini memang sulit dicari hingga aku harus memasuki toko-toko buku itu satu persatu. Pencarian itu dimulai dari depan al-Azhar, namun hasilnya nihil. Akupun istirahat untuk shalat berjamaah dzuhur di masjid al-Azhar, sambil meluruskan kaki yang sedikit pegal.

Setelah shalat, Aku melanjuti pencarian buku itu. Kini Aku menyisiri sisi samping masjid al-Azhar. Kulakukan seperti halnya tadi, Aku masuki toko buku satu persatu dan menanyakan buku yang kumaksud, akhirnya ku berhasil menemukannya di toko buku ”el-Daar Kutub el-Araby”sebuah toko buku kecil, dekil dan kusam namun memiliki gudang luas dan menampung buku-buku yang sulit dicari.

Dengan rasa gembira, Aku kembali ke dalam masjid guna istirahat dan menunggu Anggi. Ku duduk di serambi masjid sebelah kiri dengan kaki terjulur, karena pegal yang kurasakan setelah menyari buku itu. Semilir angin sejuk siang mengghilangkan rasa panas yang ada dalam diriku. Maklum, musim semi ini matahari lumayan panas. Tak lama kemudian Anggi datang.

“Hallo ngga.., udah lama nunggu?”

“Belum, baru juga nyampe abis nyari buku and Alhamdulillah ketemu”

“Emang buku apaan sih, kayaknya penting banget…?”

“Buku “al-Tahbir fi Ilmi al-Tafsir karangan Imam al-Suyuthi

“Kita jalan sekarang yuk?”

“Entar dulu yaa…shalat Ashar dulu, baru kita ke hadiqah biar tenang kalau udah shalat”

“Oke deh honey, Anggi wudlhu’ dulu yaa”

Anggipun meninggalkanku berangkat ke tempat wudlu’ sedang aku menunggu barang-barang bawaannya, selepas ia datang kini giliranku berwudlu dan kami sholat Ashar berjamaah mengikuti imam masjid karena kebetulan saat itu sudah iqamah dan shalat didirikan.

###

Kami mulai menelusiri trotoar samping Al-Azhar yang panjang dan ramai. Jalan menuju hadiqah al-Azhar agak menanjak, hingga membuat kaki kami terasa pegal. Dalam perjalanan, Anggi menanyai aku tentang hal yang akan dibicarakan sore itu, namun aku tak menjawabnya. Sengaja aku berbuat demikian agar ia bertanya-tanya dalam benaknya. Anggi memulai percakapan;

“Honey, emangnya kita mau ngobrolin apa sih?”

“Ehmm, nggak ada apa-apa kok”

“Ahhh, bohooong, pasti ada apa-apa”

“Emm yaa ada sich cuma nanti aja deh, kan nggak seru kalau diomongin sekarang”

Kulihat raut muka Anggi yang mulai bingung memikir dan menerka-nerka apa yang akan di bicarakan sore itu. Kulihat bibirnya yang manyun sesaat setelah tak kuberitahukan hal yang akan diomongkan sore itu.

Dua ratus meter di depan sana, sudah nampak pintu gerbang hadiqah al-Azhar, ku ayuhkan kakiku lebih semangat dan kubeli dua karcis untuk kami berdua. Sebuah hadiqah yang bersih, asri, indah dan anggun rupawan. Ia terawat rapi oleh pengelolanya. Aku mengajak Anggi berjalan ke arah kanan dari hadiqoh itu, tujuanku satu; Aku ingin menikmati suasana sore itu bersama Anggi dibawah naungan saung diatas gundukan tinggi bangunan itu.

Dibawah saung kami duduk, layaknya dua orang petapa yang sedang duduk sila bertatapan, saat itu sorepun mulai kelam. Siluet matahari yang kian memerah telah bermulaian muncul dan aku memulai percakapan;

“Anggi…tau nggak kenapa aku mengajakmu ke tempat ini?”

“Nggak tau, emang kenapa sie”

“Aku sebenarnya ingin mengingatkan diriku dan dirimu tentang satu hal dan kita bersama-sama intospeksi diri di sore ini yang disaksikan oleh siluet matahari di penghujung hari ini”

“Anggi…”

“Yupz”

“Kita jadian belum begitu lama, dari awal kita niatkan lillahi ta’ala, kita bertemu karena Allah. Kita berpisah juga karena Allah. Kita ingin hubungan ini sampai di satu kata ijab qabul, namun selama ini aku merasa tak kuat menahan rindu. Kita tahu satu bulan lagi ujian termin satu akan dimulai, sementara aku selalu merindumu. Apakah butuh kita untuk tidak bertemu hingga akhir ujian nanti?Aku ingin konsentrasi belajar honey…”

“Honey, akupun merasakan seperti apa yang kau rasakan, rasa itu selalu melekat tak bisa hilang dalam kalbuku. Sebenarnya, ketemu atau nggaknya itu bukan yang jadi masalah. Honey, mari kita jadikan cinta kasih kita sebagai penyemangat untuk kita belajar. Ibuku pernah berpesan melalui sms kepadaku, begini ucapannya; “Kami merestui kalian. Jangan sampai kerinduan yang ada diantara kalian mengganggu belajar, kalian pasti bisa konsentrasi, yakini itu!”. Oleh karenanya, jangan kau rasakan rindu itu suatu hal yang mengganggu. Jadikan ia seperti darah yang selalu mengalir memberikan kehangatan bagi tubuh kita”.

Ku pegang kedua tangannya, kupinta ia untuk berdiri dan kami sama-sama memohon: ”Tuhan, Jadikan kerinduan kami adalah penyemangat dalam belajar”

*Bangunan beratapkan jerami, tempat untuk bersantai. Sejenis gazebo.

Friday, October 19, 2007

Minal 'Aidzin Wal faidzin...

Kemenangan, Milik-MU Tuhan..

Oleh:AsmaMu

Allahu Akbar….Allahu Akbar…..Allahu Akbar

Kataku katamu katakita katamereka katakalian katakitasemua

Senyumku senyumu senyumkita senyummereka senyumkalian senyummilik bersama

Kemenanganku kemenanganmu kemenanganmereka kemenangankalian kemenangan milik Tuhan…

Allah Maha Besar….

Tapi apakan kita benar-benar menang?

Manusia mengaku ia menang

Tuhan yang punya itu

Tanpa pemberiannya kita tak punya itu…

Dari dulu kita miskin tak punya apa-apa!!!

Kuuntai ungkapan maaf

Padamu Yang Maha pemaaf.

Moga memaaf

Menjadikanku kaya tidak miskin seperti aku dulu

Dan

Aku meraih kemenangan hakiki

Di

Iedul fitri ini….

(Mohon Maaf Lahir Bathin…)

Puisi Orang Ngaku Pinter Sedang Bertanya Padaku......

Akal- Akal Tuhan

( Sajadah Panjang Malam Kelam Di Bawah KerinduanMu Tuhan)

Oleh: AsmaMu

Tuhan…

Orang-orang berakal bilang padaku

Bertanya menalar Akal Mu padaku

Lima “ W” Satu “H”

Itu yang mereka guna padaku

Tuhan…

Ini mereka bertanya;

Apakah Kau ada saat semua tiada

Kapan Kau mulai ada

Siapa yang tahu waktu itu kalau Kau ada

Mengapa Kau ada

Dan…

Bagaimana Kau bisa ada

Hu…Allahu….Hu…Allahu…..Hu….Allahu

Tuhan…

Mereka menalarMu dengan akal-akal

mereka yang mengaku berakal

mengakuia akal-akal mereka mampu berakal-akal

Dzat-Mu yang tak bisa diakal-akal

Ooo…Tuhan

Berikan bukti bagi mereka dengan akal-akal

mereka yang berakal

hingga tahu Kau tak bisa diakal-akal

Sunday, August 19, 2007


Nilaiku Merosot*

Aku salah seorang mahasiswi Al-Azhar University. Dua tahun silam aku mulai menapakkan kakiku di bumi kinanah ini. Gairah dan gelora jiwa yang membara, membentuk suatu tekad kuat dalam hati saat itu. Tahun pertama kulalui kehidupan di Kairo ini dengan penuh warna-warni indahnya bumi ini. Semua yang kurencanakan, dapat berhasil sesuai target yang ada bahkan menghasilkan hal yang lebih baik dari yang kutulis di buku diary butut namun penuh makna hidup.

Ujian tingkat satu aku mampu mendapatkan predikat "Baik". Aku bangga dengan apa yang kucapai, ku perlihatkan nilai yang kudapat pada kenaikan tingkat I pada kedua orang tuaku dan mereka bangga denganku. Saat itu aku berjanji akan mempertahankan bahkan mengembangkan serta membahagiakan mereka dengan prestasiku di bangku perkuliahan.

###

Dua bulan yang lalu aku telah menyelesaikan ujian kenaikan tingkat II, kini hanya menunggu hasil ujian. Semua mahasiswi menanti-nantikan diumumkannya hasil itu. Sebagian besar dari mahasiswi banyak yang menantinya dengan harap-harap cemas dengan mengontrol nilai mereka, sebagian yang lain menunggu dengan pasrah.

Tiga hari yang lalu, aku mendengar kabar bahwa hasil ujianku sudahlah diumumkan. Bersigegas kumelangkahkan kaki dari rumah menuju kampus, aku ingin cepat-cepat melihat hasil itu. Ditengah perjalanan, mulutku berkomat-kamit mengucapkan doa seraya memohan kepada Allah Swt semoga aku lulus dan dapat naik ketingkat berikutnya.

Kini aku berada ditempat diamana hasil ujianku yang lalu diumumkan, sebagian mahsiswa kulihat berparas sedih melihat hasil ujian. Aku mencoba mendekati tempat yang dikerumungi banyak orang, degup jantung hatiku berdetak kencang, badanku sedikit bergetar, sekali-kali ku menelan ludah untuk melegakan hatiku. Saat kulihat, ternyata aku lulus dengan membawa tanggungan satu materi, namun sangat disayangkan nilaiku merosot.

Sesaat setelah melihat itu, rasa sedih datang menghampiriku, membuatku menyesalkan diri dan bertanya-tanya mengapa ini terjadi…?, ingin rasanya menangis namun tempat itu terlalu ramai untuk menampakkan kesedihanku. Ku tahan rasa sedih itu, hingga sampai aku dirumah. Sesampainya dirumah, ku menyendiri di pojok ruangan dan sesekali menangis menerima kenyataan yang ada. Setengah hari aku menangis karena merosotnya nilaiku pada tahun ini, selama hidup aku belum pernah mengalami kemerosotan dalam prestasi di bangku sekolah. Hingga akhirnya aku tertidur pulas karena kelelahan menangis.

###

Sang malam menyapa dengan dengungan adzan di sepenjuru kota, ku terpaku di balkon rumah, termenung mengingat hasil ujianku.serasa diri ini tak percaya kalau aku harus naik tingkat selanjutnya dengan membawa tanggungan satu materi. Berpaling dari sebuah kenyataan dunia bahwa takdir setiap manusia sudah ditentukan oleh-Nya. Ada pergumalan antara perasaan dengan nuraniku, sang perasaan berkata;

"Ya Allah, Mengapa hasil ujianku ditahun kedua ini menurun…?"

"Bukankah aku belajar sudah super maksimal, ku kerahkan segala kemampuan yang ku punya…?".

Kata-kata itu terus berputar mengelilingi kepalaku, hingga ku tak tahankan diri dan air mata terurai menetesi baju hijau yang ku pakai, sesekali aku menghela air mata dengan kerudung panjang berwarna hijau muda kesayanganku. Yang ada dalam pikiranku saat itu, aku merasa diriku sudah kalah. Diriku kali ini tidak dapat menyenangkan kedua orang tuaku dengan nilai yang kuperoleh saat ini.

Air mata bening mulai deras membasahi semua bajuku. Akupun bingung mengapa aku seperti ini, menangisi kemerosotan nilaiku, padahal walau demikian aku masih tetap lulus dan naik ketingkat berikutnya. Sesaat ku mendengar besitan suara dari dalam nurani dan berkata;

"Mengapa menangis dan kecewa karena merosotnya nilai, wong semuanya sudah ditentukan oleh Allah Swt"

"Apakah kau tidak melihat, betapa banyak teman-temanmu yang belum lulus dan belum dapat naik ke tingkat berikutnya?"

"Dimana rasa syukurmu, sementara hanya nilaimu yang merosot dan engkau masih bisa merasakan tingkat selanjutnya, sementara mereka…?"

"Engkau Harus ikhlas dan bersyukur, bisa menginjakkan kaki ke tingkat selanjutnya, cobalah untuk selalu ridha atas segala yang Ia berikan"

"Ridhalah dengan apa yang Allah beri, niscaya engkau mendapat banyak hikmah dari kejadian ini".

Saat ku mendengarkan nuraniku bicara, aku sadar bahwa aku terlalu picik memandang sebuah kelulusan dengan nilai yang kucapai, ku mencoba meyakinkan diri dengan perkataan nurani, kutanamkan bahwa aku harus tetap bersyukur sebagaimanapun nilai yang kuperoleh tahun ini. Ku sadarkan diriku bahwa masih banyak kawan-kawanku yang tahun ini belum bisa merasakan kelulusan sepertiku.

*Kupersembahkan untukmu yang terundung sendu karena nilaimu, semoga ini mengobati hatimu….

Malam buta,31 Juli 2007

Created By:

AsmaMu

Saturday, August 18, 2007

Puisi Kita

Jadikan Aku Rembulan

Tuhan…

Jadikanlah aku bulan

Menerangi alam yang tenang

Hingga menjadi terang


Tak pernah mengeluh pada mentari

Menerima sinar yang ia bagi

Selalu senyum tanpa tendensi

Ceria dimalam hari


Tak pernah gusar dengan keberadaannya

Tak pernah menangisi akan ketidakadialan baginya

Ridha dan ceria

Jadikanlah aku sepertinya

Friday, August 3, 2007

Cerpen kita


Seorang Bayi Dan Rezeki

Oleh : AsmaMu

Aku keluar dari rumah, tepatnya di pertigaan kawasan gamik tidak jauh dengan suuq sayyarah. Niatku, ingin menjemput tunjangan bulanan di Wisma Nusantara sebesar seratus pound. Bagiku tunjangan itu cukup besar karena Aku telah terbiasa dengan hidup pas-pasan. Dengan ucapan basmalah, Aku awali langkahku dengan mengayuhkan kaki penuh optimis dan keyakinan bahwa rezeki yang Allah berikan, harus Aku jemput!.

Tanpa sadar saat berjalan, klakson BMW silver itu berbunyi panjang dan hampir saja menabrakku, mobil itu berhenti. Sang pengemudi menyembulkan kepala dan berkata ;

"Yabnalkalb, inta musy basyufak 'arobiyah timsyiii?”, celotehan kasar ala mesir itu keluar dari mulut pengemudi mobil.

"Yakhrebbaitak ya wala'", suara seronohan keluar dari dalam mobil.

"Ma'lisy ya vandem, musy basyuufil'arobiyah bita’tak timsy", jawabku meminta maaf.

###

Mobil itu langsung menancap gasnya, Aku hanya bisa mengelus dada menahan cacian kasar orang mesir seraya berdoa "Ya Allah jadikanlah Aku orang yang sabar". Aku sebrangi jalan itu dan kulihat Andrey dari kejauhan, kenalanku dalam kru Fajar tahun lalu. Aku berjalan mengendap-endap dari belakang seraya menepuk punggungnya.

"Eh, kamu.., Aku kira siapa?"

"Sory Rey, sudah membuatmu kaget"

“Sory juga Den, Aku telah membuat tanganmu sakit”

"Oh iya, kenapa kamu dengan orang Mesir di seberang jalan sana?"

"Nggak apa-apa kok, biasalah Rey, namanya orang Mesir ya seperti itu. Mobilnya hampir saja menabrakku"

"Kamu juga sich, berjalan sambil melamun, memang jalanan ini punya bapakmu..."

"Eh iya, kamu mau kemana Den?"

"Aku mau main ke rumah teman lama dan kebetulan ada acara kajian sastra di rumahnya."

"Kalau kamu?"

"Ooo, Aku mau ke Wisma Nusantara, mengambil tunjangan bulanan."

"Ya sudah kalau seperti itu, micro bus yang akan saya tumpangi sudah datang."

###

Rey sudah naik micro bus itu, sementara Aku masih saja menunggu bus 65 kuning dengan rokok Cleopatra mengepul di tanganku. Tak terasa waktu bergulir cepat. Aku lirik jam tangan bututku. Jarum jam kini menunjukkan pukul 14.15 WK, pertanda tunjangan itu mulai dibagikan sedangkan Aku masih berada di kawasan Hay-10.

Dalam menunggu bus itu, hatiku terkadang mengeluh tak sabar untuk cepat-cepat sampai di Wisma Nusantara, namun Aku yakin Allah akan mempermudah segala urusan. Tak lama selepas itu, bus 65 kuning itu datang tanpa Aku duga, Akupun bersigegas menaikinya, meninggalkan Hay-10 menuju kawasan Rabe'a el-'Adaweya tempat di mana Wisma Nusantara itu berada. Dalam hatiku hanya ada ucapan tasbih dan tahmid atas kemudahan dari-Nya.

###

Bus 65 kuning yang kunaiki sangat padat dan memang terkenal rawan dengan pencopetan di kalangan mahasiswa. Awalnya, Aku berada di muka bus, tepatnya menyandar di samping Pak sopir, lama-kelamaan posisiku semakin tergeser oleh penumpang yang mau turun, hingga akhirnya Aku berada di tengah-tengah bus.

Saat itu kulihat seorang mbak menggendong bayinya berada di tengah himpitan penumpang, sesekali ia berusaha melindungi bayinya dari benturan-benturan himpitan penumpang. Kulihat raut mukanya mulai pucat, tak tahan dengan keadaan bus yang padat sekali dan khawatir dengan kondisi bayinya. Hatiku terenyuh melihatnya. Namun tak ada yang bisa Aku lakukan, Aku hanya bisa berdoa semoga Allah menyelamatkan mbak dan bayi itu.

Aku berjalan mendekati posisi di mana mbak itu berdiri kemudian menyapannya;

"Assaalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam"

"Mbak mau kemana?"

"Oh, saya mau pulang ke rumah di kawasan Nadisikkah"

"Bus hari ini terlalu padat mbak, apa mbak nggak kasihan dengan bayinya?"

"Sebenarnya saya khawatir dengan bayi saya, namun untuk pindah posisi saja sulit, apalagi mau turun!"

"Oh begitu, bagaimana kalau mbak saya turunkan di Ta’min Shihhi kemudian naik taksi ke Nadisikkah dan saya turun di depan bank NSGB?"

"Iyalah dek, mbak ikut gimana enaknya saja. Terima kasih ya dek!"

"Ah biasa sajalah mbak!!!".

###

Bus kini sudah berada di kawasan 'Abdul Rosul, dua mahattah lagi Ta'min Shihhi. Aku bingung bagaimana caranya agar Aku berada dekat pintu bus ini, karena penumpang yang lain sangat cuek dengan kondisi di sekitarnya. Aku kehabisan akal dan berteriak lantang yang bisa memecahkan kecuekan mereka;

"Yallah yaa gama'ah, Siibuu dzah madam bitinzin, alasyan ma'aha thifl shogiir"

"Haati Thari', lau samahtu!"

"Nazzilna ánda ta'min shihhi law samaht!"

Dengan spontan para penumpang memberi mbak itu jalan mendekati pintu turun dan Aku berada di belakangnya. Aku sengaja ikut turun bersama mbak tersebut untuk memastikan kalau mbak itu sudah tidak membutuhkan bantuanku lagi. Spontan mbak itu berkata;

"Lho kok adek turun disini ?"

"Iya mbak, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi ?"

"Nggak kok dek, terima kasih! Adek sudah banyak membantu mbak"

"Biasa sajalah mbak, saya paling nggak tega kalau ada bayi terjepit antara himpitan penumpang seperti tadi "

Tangan mbak itu melambai memberhentikan taksi yang lewat, taksi pun berhenti tepat di depanku. Sebelum mbak itu masuk taksi, ia merogoh kantong baju dan ternyata dompetnya hilang di bus tadi. Ada bias kebingungan di wajah mbak tersebut, lalu ia bilang tidak jadi untuk menaiki taksi pak supir tersebut.

"Kenapa mbak ?"

"Ternyata dompet mbak, hilang tanpa terasa di bus tadi"

"Maksud mbak, kecopetan gituu ?"

"Iya dek, mbak bingung mau pulang dengan apa, sementara perjalanan masih lumayan jauh dan mbak nggak megang uang lagi?"

"Ini mbak, ada sedikit uang, mungkin bisa dipakai untuk pulang ke rumah"

"Nggak usah dek, mbak dari tadi sudah banyak merepotkkan adek"

"Ambillah mbak, untuk ongkos pulang ke rumah"

"Trus adek sendiri?"

"Masih ada kok, cukup untuk saya bisa pulang lagi ke hay-10"

"Sudahlah mbak, ambil saja. Mungkin ini rezeki mbak melalui saya, berterima kasihlah kepada Allah, karena Ialah yang memberikan semuanya."

Aku melambaikan tanganku dan sebuah taksi pun berhenti. Aku suruh mbak itu masuk setelah menerima uang yang kuberikan, taksi pun langsung melaju menuju Nadisikkah sedangkan Aku kembali melanjutkan perjalanan ke Wisma Nusantara melalui jalan belakang, tepatnya melewati Genena Mall. Dalam perjalanku, Aku selalu terpikirkan kemalangan nasib mbak itu. Semoga Allah mempermudah segala urusannya.

###

Tak terasa langkahku sudah mendekati Wisma Nusantara, hanya tinggal dua tikungan saja akan nampak banguan yang akan kutuju. Langkahku semakin cepat karena Aku melihat banyak mahasiswa lainya yang datang bergerombol ke sana. Aku bersigegas menaiki anak tangga hingga sampailah pada kantor BWAKM, sebuah Badan Wakaf dan Amal Mahasiswa di Kairo, yang menyalurkan wakaf kepada mahasiswa. Aku melihat ada sekitar dua puluhan orang yang sedang menanti panggilan dari pengurus BWAKM duduk berjajar. Aku menyetorkan sebuah kartu, mahasiswa menyebutnya dengan kartu kehidupan. Dengan hanya menyetorkannya, kita dapat tunjangan berupa uang.

Aku berada pada posisi antrian yang ke-21. Sambil menunggu panggilan, Aku menyandarkan tubuhku dan menyelonjorkan kakiku yang tadi Aku bawa berjalan dari Ta'min Shihhhi menuju Wisma Nusantara. Saat adzan berkumandang, namaku diurutan yang ke-21 dipanggil, pertanda Aku akan mendapatkan uang untuk bulan ini. Gembiranya hati seraya bersyukur pada Allah atas rezeki yang Aku terima. Kemudian Aku bersigegas ke masjid, untuk melaksanakan shalat ‘ashar berjama'ah kemudian pulang ke rumahku di kawasan Hay-10.

Dalam akhir setiap sujudku, Aku selalu berdoa dan bersyukur atas rezeki yang Allah berikan kapadaku seraya meminta ampunan akan segala kesalahan yang pernah diperbuat. Selepas salam, Aku berdzikir dan berdoa sekedarnya. Aku sempatkan mengulangi hafalanku minimal setengah juz seperti hari-hari sebelumnya. Mulutku berkomat-kamit cepat dengan mata agak terpejam mengingat-ingat letak ayat yang telah Aku hafal.

Tiba-tiba seorang bapak-bapak tua berperawakan gemuk, tinggi dengan rambut dan janggut yang sudah memutih, berpakaian rapi dilengkapi dengan jas biru dongker menghampiriku, mengucapkan salam seraya menyalamiku dengan uang dua ratus pound dengan berkata; “Hadza Rizqun Minal Allahi ya Bunayya”, dan langsung pergi meninggalkanku. Aku tersentak kaget dan sejenak tak sadarkan diri bahwa Aku baru saja disalami seseorang dengan uang dua ratus pound. Aku mencoba berlari mengejar orang yang memberiku uang tersebut, namun sayangnya ia sudah pergi dengan mobil Mercedes Ben hitam yang melaju ke arah jalan raya Ta’min Shihhi. Aku masuk kembali ke dalam masjid dan seraya bersujud syukur. Tanda tanya besar dalam hatiku; Siapa dan mengapa ia memberikan uang sebesar itu kepadaku?. Hingga kini Akupun belum bisa menjawabnya.

-------------------------------------------------------------------------------------------

Keterangan:

  1. Gamik: Sebuah kawasan di Hay-10 yang merupakan salah satu kampung mahasiswa Indonesia
  2. Suuq sayyarat: Tempat jual beli mobil bekas, yang letaknya di samping kawasan Gamik.
  3. Yakhrebbaitak ya wala': Niscaya Allah membakar rumahmu hai pemuda(Bhs cacian khas orang Mesir)
  4. Yabnalkalb, inta musy basyufak 'arobiyah timsyiii?”:Hai anak anjing, kamu nggak ngeliat mobil lewat?!
  5. Ma'lisy ya vandem, musy basyuufil'arobiyah bita’tak timsy: Maaf Om, nggak ngeliat mobil lewat
  6. Rabe'a el-'Adaweya: Kawasan dimana Wisma Nusantara dan BWAKM berada.
  7. Nadisikkah: Sebuah kawasan setelah Rabe’a Al-‘Adawiyah
  8. Abdul rasul : Sebuah kawasan sebelum Rabe’a Al-‘Adawiyah
  9. NSGB: National Societe General Bank
  10. Yallah yaa gama'ah, Siibuu dzah madam bitinzin, alasyan ma'aha thifl shogiir: Wahai penumpang, biarkan Ibu ini turun karena ada bayi kecil bersamanya
  11. Haati Thari', lau samahtu!: Mohon Beri jalan, kalau bersedia.
  12. Nazzilna ánda ta'min shihhi law samaht!: Turunkan kami di Ta’min Shihhi kalau bersedia

Harap ku Tuhan


Angin malam menggepukkan debu

Mengukir kisah baru yang berlalu

Engkau…

Aku…

dan waktu….

Hanya Tuhan yang tau

Apakah kita akan bersatu…???

Menggapai satu mahligai nan semu


Waktu kan berbicara

Memberontak kebisuan semasa

Menguak takdir anak manusia

Bahwa Ia Tuhan Yang Kuasa


Berharap Tuhan yang Abadi

Restui kita satu masa nanti

Tuk bersama arungi

Mahligai nan abadi


Engkau

Aku

Dan kita satu

Thursday, July 26, 2007

Cerpen kita



Gadis di Soekarno Hatta
Oleh: AsmaMu


Jam dinding menunjukkan pukul 15.00 Wib, pertanda Aku harus segera bersiap-siap menempuh sebuah perjalanan yang sebelumnya belum pernah Aku tempuh. Jarak yang sangat jauh melintasi benua, membuatku tak bisa membayangkan bagaimana kelak perjalanan yang akan Aku tempuh. Di benakku hanya ada satu kata ”Hadza min fadli rabbi liyabluwani aasykur am akfur.” Inilah salah satu keagungan-Nya, Ia memanggil siapa saja yang Ia kehendaki untuk menimba ilmu di negara yang belum pernah ia kenal sebelumnya, di negeri yang beribu-ribu tahun silam, hidup para ambiya’ dan kaumnya.

Mesir merupakan negeri yang tak pernah Aku bayangkan akan dapat menginjaknya bahkan akan berdiam di dalamnya dalam kurun waktu yang tidak sebentar, Aku hanya dapat mengenal negeri seribu kinanah ini dari para alumni dan orang yang pernah belajar didalamnya.
”Janganlah kau berangan-angan tentang Mesir. Toh, nanti angan-anganmu tak akan sama juga!” Pesan seorang ustadzku yang ikut melepas kepergianku.
“Al-Misru in lam taqharha qaharatka” Pesan salah seorang kiyai langgarku yang pernah belajar di Kairo.

Aku langkahkan kaki dengan penuh optimis. Menyongsong masa depan dengan mata terbuka, bahwa Aku adalah harapan keluarga dan masyarakatku dua puluh tahun mendatang.

Aku segera memasuki mobil beserta ayah, ibu dan kakak, mobil itu melaju dengan kencang di jalan tol Jagorawi menuju bandara Soekarno - Hatta. Setibanya di sana, Aku sudah ditunggu rombonganku, mereka telah berbaris mengantri untuk chek in. Di antara barisan nampak sesosok gadis manis mengenakan jubah dan kerudung yang pajang, Aku semakin penasaran dengan gadis yang Aku temukan tadi, tanda tanya besar yang ada di benakku.

“Han, kamu kenal sama cewek itu?” Ucapku polos.
“Gak tau, itu rombongan mana aja gue gak tau, boro-boro gue tau nama cewek itu.” Sahut Raihan dengan logat betawinya yang kental.
“Kalau kamu gimana bay?” Tanyaku kembali.
“Nggak tahu juga, masa bodo amat ah, tu rombongan dari mana and sapa nama tu cewek.”

# # #

Aku masih saja bertanya-tanya dalam diriku akan nama cewek yang kujumpai sepintas tadi. Saat Aku masuk ke dalam kabin pesawat, tak sengaja untuk kedua kalinya Aku berhasil melihat wajahnya yang manis. Aku malu untuk bertanya siapa namanya. Aku memang seorang pemalu untuk berkenalan, apalagi dengan yang namanya cewek, Aku harus berpikir seratus kali untuk melakukan itu. Aku lihat ia duduk tepat di depan tempat dudukku, Aku jadi salah tingkah dan bingung akan apa yang harus Aku lakukan, Raihan berbisik padaku.
“Udah, santai aja…. Coy anggap aja lu lagi gak mood and gak mo kenal ama cewek yang duduk di depan lu.” Bisik Raihan.
###

Pesawat akan lepas landas, itu tandanya Aku harus mengenakan sabuk pengaman yang ada di kursiku. Tak lama kemudian pesawat itu terbang meninggalkan tanah air tercinta, yang penuh dengan sejuta memori manisku. Di dalam pesawat Aku masih terdiam mengenang kedua orang tua dan sanak saudara. Aku masih memiliki sebuah tanda tanya besar dalam diriku tentang siapa sosok cewek yang Aku jumpai sejak di bandara tadi.

Aku sendiri heran pada diriku, mengapa Aku penasaran dengan cewek yang hanya Aku jumpai sesaat di bandara Soekarno Hatta tadi. Entahlah, ada apa dengan diriku, Aku pun tak tahu. Akhirnya Aku terhanyut dalam buaian mimpi ditemani musik tradisional negeri Bangkok. Perjalanan panjang dan melelahkan kulalui dalam buaian mimpi yang indah. Mimpi dengan keluarga tercinta di tanah air, berkumpul dalam satu momen Idul Fitri nan indah dengan kebersamaan.

“Hoy, bangun! Ayo kita turun! kita dah nyampe Kuwait nich!” Seloroh Johan.
“Emh, emang bener dah nyampe….?” Tanyaku heran.
“Iya…. Kalau nggak percaya lu liat aja keluar.” Jawab Johan.

# # #

Aku pun bangun dan berjalan sempoyongan keluar dari kabin pesawat, mataku seketika terbelalak melihat bandara yang asing bagiku. Semua penumpang dijemput menggunakan bus dan ditempatkan di hotel milik maskapai penerbangan Kuwait. Aku langsung masuk ke dalam kamar hotel yang telah disediakan dan merebahkan tubuhku di atas kasur, hingga kutak sadarkan diri bahwa Aku sudah terlelap tidur selama lima jam. Rasanya Aku baru saja tidur dua jam yang lalu.

Kuambil air wudlu walaupun rasa malas masih menggelanyuti hatiku, bisikan syetan masih saja memaksaku agar Aku tidak berwudlu, kupaksakan diri ini dengan kutancapkan dalam hati kecilku yang paling dalam bahwa; ”Aku harus sholat!”.

Dinginnya guyuran air membuatku segar dan sadar sepenuhnya dari buaian mimpi yang beberapa menit lalu masih menjeratku. Kuambil sajadah yang tergeletak di ruang tamu, kuhamparkan dan sholat hingga terhanyut dalam buaian sentuhan Rahmani. Dalam waktu yang cukup singkat itu Aku merasakan suatu hal yang luar biasa, yang kini membekas dalam diri ini.

Selepas sholat, kupanjatkan beribu hajatku pada-Nya, kumenangis dengan isak dalam sentuhan Ar-Rahman-Nya, Aku menyadari betapa tak berharganya diri ini. Selama ini Aku selalu lupa pada-Nya, pada yang mengembalikan ruh ke jasad ini, pada yang memberikan Aku rizki, pada yang memberikan Aku segala-galanya, namun diri ini sering saja bermaksiat pada-Nya, diri ini sering melalaikan sholat yang Ia wajibkan bagi hamba-Nya, padahal hanya itulah yang Ia minta, sebuah pengabdian sebagai tanda terima kasih kepada-Nya.

Ya Rabb, ampunilah segala dosa-dosaku, siramlah hatiku dengan air embun cahaya nur-Mu, yang menjadikanku makrifat pada-Mu. Ya Rabbi... in ‘adzumat ad-dzunubi katsroh falaqad ‘alimtu bianna ‘afwaka a’adzam. Ya Rabbi... Entah mengapa kemaren Aku simpatik kepada seorang gadis di bandara, perasaan apa lagi ini yaa Allah... Yaa Allah berikanlah Aku kekuatan untuk menghadapi segala masalah yang terjadi.

Jika memang apa yang Aku hadapi ini adalah masalah hati dan di dalamnya ada cinta, datangkanlah perasaan cinta itu dimana Aku sudah siap dan mapan menurut-Mu dan berikanlah rasa cinta ini hanya kepada orang yang telah Kau takdirkan untuk menjadi pendampingku. Ya Rabb... Apabila yang kutemui itu adalah pendamping hidupku kelak, temukanlah Aku disaat Aku telah mapan untuk hidup berumah tangga. Rabbana atinaa fi ad-dunya hasanatan wa fi al- akhirati hasanatan waqina ‘adzaban an-naar.

Kuusap mukaku yang penuh dengan linangan air mata dengan kedua telapak tangan. Aku pun beranjak dari tempat di mana Aku bersimpuh menghadap-Nya. Kuambil mushaf yang kubawa dari Indonesia, mushaf yang memiliki kenangan indahnya sebuah persahabatan. Kubaca dengan seksama ayat per-ayat dengan men-tadabburi isinya.

# # #

Tak terasa waktu bergulir dengan cepatnya, jam dinding telah menunjukkan pukul 07.00 WK (Waktu Kuwait). Dan, itu tandanya Aku harus turun ke bawah untuk sarapan pagi. Pagi itu yang kutemui hanya roti, makanan yang tak begitu Aku sukai, kupaksakan diriku untuk memakannya walaupun hal itu membuat perutku agak mual. Selepas sarapan pagi, Aku diajak oleh pelayan hotel ke tempat permainan yang telah disediakan. Aku mengajak semua teman-teman untuk bermain bersama hingga tanpa disadari hari sudah siang.

Aku harus bersiap-siap melanjutkan perjalananku ke Negeri Seribu Menara. Pesawat telah menanti penumpangnya untuk membawa mereka ke negeri yang mereka tuju; Mesir. Lagi-lagi Aku tertidur pulas di dalam pesawat hingga tak terasa pesawat yang kunaiki telah mendarat di Kairo.

# # #

Aku beserta kawan-kawan yang lainnya turun dari kabin pesawat melewati lorong yang telah disiapkan oleh maskapai. Sambil berjalan menelusuri lorong, kunyalakan Hp yang sebelumnya kumatikan. Ternyata ada sms baru yang kuterima, sms itu berbunyi:
“Kalau kamu ingin sukses dihari nanti, kamu harus bersusah payah mulai sekarang, mengisi setiap waktumu dengan ilmu dan meninggalkan perkataan yang kurang bermanfaat, karena setiap harinya kamu bisa dapatkan banyak ilmu dari para masyaikh yang bertebaran di Kairo ini. Sekarang tinggal kamu yang memilih, mau jadi orang sekses atau mau jadi orang yang teler di Kairo ini. Zien.”

Sambil berjalan meninggalkan bandara Aku pun selalu memikirkan isi sms itu. Ayalku terbang dalam lamunan. Aku terkejut disaat Si Johan menepuk punggungku dan mengajakku untuk berjalan ke arah pintu keluar. Aku lihat rombongan kakak kelasku, menebarkan senyuman merekah di bibir mereka, menandakan kegembiraan mereka bertemu kembali dengan Aku dan kawan-kawan.

Aku dibawa ke sekretariat almamater, di sana Aku dikejutkan oleh penyambutan para alumni, dalam benakku berkata; “Ternyata di negeri ini, Aku tidak sendirian.” Aku senang sekali dengan penyambutan yang ramah dan hangat. Aku merasa menjadi salah seorang anggota dari keluarga. Setelah acara itu, Aku beserta teman-teman di tempatkan di sebuah rumah untuk beristirahat. Anton yang merupakan kakak kelasku, mengabari bahwa siang esok hari ada acara dalam rangka menyambut mahasiswa dan mahasiswi baru. Kak Anton menyuruhku dan teman-teman yang lainnya agar bersiap-siap setelah sholat dzuhur yang nantinya akan dijemput.

###

Selepas sholat Dzuhur berjamaah di rumah, kami bersiap-siap untuk pergi. Tak lama kemudian Kak Anton datang dan kami langsung pergi ke tempat acara yang diadakan. Sesampainnya di sana, Aku melihat wajah itu lagi, yaa... Wajah yang menarik perhatianku di bandara Seokarno Hatta. Hatiku berguman; Ya Rabb, Kuatkanlah aku... Hingga kini, Aku pun tak tahu siapa nama gadis itu.